Lebaksiu, tempatku dilahirkan. Tepatnya d daerah Lebaksiu Lor. Tempatnya para saudagar martabak. Desa ini memang tergolong kecil namun ramai. Karena dilewati jalan raya Tegal – Purwokerto. Jadi letaknya begitu strategis.
Banyak sekali obyek wisata yang dapat kita temui, tentu saja obyek wisata alam. Karena di daerah tersebut terbentang Sungai Gung yang luas dan deretan Bukit Sitanjung serta Gunung Slamet. Di sini pula terdapat pemancingan yang ramai dikunjungi oleh orang-orang yang terbilang kaya. Yang ingin mencicipi bawal bakar dengan sausnya yang begitu terkenal mengundang selera.
Namun itu dulu, kini rusak sudah pemandangan itu. Penambang sirtu (pasir dan batu) menambang pasir dan batu semakin liar saja. Bayangkan, dulu sungai itu mengalirkan air yang deras kini hampir kering kerontang serta bebatuan yang berserakan. Sangat jauh berbeda. Jembatan yang menghubungkan daerah Lebaksiu Lor dengan Sidamulya(bener apa ngga yah, lupa.he) pun rusak parah.
Sangat sayang sekali, padahal pemadangan di Lebaksiu Lor dapat dijadikan obyek wisata alam. Kini rusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Aku ingin ketika suatu saat aku menjadi pempimpin nanti, aku ingin memberdayakan potensi tersebut dan merekonstruksinya menjadi sediakala. Doakan ya.. Amin

















semakin rusak alam kita
semakin rusak kenangan indah kita
dan benarlah jika yang merusak itu adalah manusia
begitulah manusia, serakah. selagi ada kesempatan dan memungkinkan, apapun bisa di embat. gimana alam gak murka. pasirnya di ambilin terus.
Sekarang di desa tetangga sering longsor sama banjir. Batu-batunya pada ikut kebawa arus. Menyedihkan sekali.
Setiap libur hari raya, d tempat sini rame banget kalau pagi2.
iya tuuh dit, parah banget!!eksplorasi tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan sekitar..herannya perusahaan itu tetep dikasih izin sama pemda, DPRD juga diem aja, dapet jatah juga apa yhaa??
kamu ajakin warga situ demo aja dit..!!!
Iya, kalau saya sempat saya pasti akan membicarakan hal ini. Kurang tahu juga sepertinya Tegal sekarang jadi semakin parah. jalan-jalan berlubang (saya hampir saja menjadi korban), pembuatan jalan lingkar di depan mounumen, lambatnya respon pengaduan dari masyarakat, dan masih banyak hal yang lain.
Namun untuk melakukan suatu demo, kita juga melihat dahulu. Apakah secara hukum tidakan kita benar atau tidak. Jangan sampai demo yang membuat kerusuhan (yang lebih memalukan lagi, yang demo dari kalangan mahasiswa, kaum terpelajar). Malahan membuat Indonesia menjadi semakin panas.
Kabupaten Tegal masih banyak yang harus dibenahi. Kita merindukan pemimpin yang jujur, adil, berani, berbudi pekerti yang baik, dan santun. Siapakah dia?
Sedih lihat sungai gung sekarang jd seperti itu.. dulu sewaktu kecil masih aku ingat seneng nya bs berenang disungai gung.. tp sekarang mana bs buat berenang,, bt nyuci aja harus dt4 tertentu.. ayo bangun lebaksiu.. salam Ortega… WBA (Wong Baxciu Asli)
@ Ai
Ortega sudah tidak terdengar lagi kabarnya. Lebih terdengar seperti Waroeng Tegal dan Soulmate (Solidaritas Mahasiswa Tegal).
emang sungguh nasib jika kali gung yang agung menjadi bencana yang agung… jadi namnaynya menjagi kali bencana gung
RuusssSAAAkkkK……?
Kata Siappaa sich Mas…
Waduwwwhhh…., Yang BbennneeeeRrrrr ?
Dilihat dari segi apAAnYa yaaaA…
Yangg dimaksud Russakk di sini appa sechh..Aq gak tau Masss…
Allah SWT selalu mengetahui apa – apa yang tidak diketahui oleh manusia
Untuk itu kita hanya sebagai pengamat dan penikmat saja, segala sesuatu yang terjadi nantinya hanyalah ALLAH yang Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak
The creature has begun and the future must fit together
Your lives can be found in your brain
Kebetulan saya memang tinggal di dekat Sungai Gung. Jadi saya tahu tentang apa yang terjadi di Sungai Gung. Keberadaanya kian menyediahkan. penambangan pasir yang kurang memperhatikan alam. Atau jika Saudara sempat, silahkan mengunjunginya.
Emang payahh….., wong wis pada lupa daratan makane alam yang dulu indah menjadi ancuur!!! oh ya dulu banget aku punya temen2 di lebaksiu juga. tau sekarang masih pada inget ngga. Salam dong sama alumnus SMA I SLAWI tapi keder karena ngga merasa sekolah neng kono tapi sekolah neng SMA 3 SLAWI. kalo yang seangkatan denganku pasti mengerti…
kembali ke kerusakan itu yaaa… ingat-ingat kyeh sedulurrr kabeeh…
adang aku dadi PRESIDEN, wong-wong sing pada ngrusak tak bagel-bageli kabeh ben tuman!!!
gimana tuh Bupatinya, jangan mung petentang-petenteng tok!
jadi inget SMP dulu…SMP N Lebaksiu…
itu gambar kali gung ya…? kok jadi gitu? udah lama sekali saya ngga ngliatnya. airnya pada kemana ?
dulu kalau lagi banjir, saya sengaja datang dari yomani buat melihatnya…
Airnya sudah menjadi keruh dan alirannya juga tidak sederas dulu
aduh sayang sekali yah dulu saya tiap hari ngelewatin sungai gung karena aku dari desa harus sekolah he smp lbs. bagai mana kalau kita bantai aja para penambang pasir itu
ayoo maju
@Bandi:
Iya, apalagi ini sedang musim hujan. Biasanya ada banjir kiriman.
Oh iya, sekarang SMP N 1 Lebaksiu banyak perubahannya. Meskipun sekarang tidak pernah lagi masuk ke sana semenjak lulus SMP. he