Lebaksiu sekarang

14 10 2008

Sore itu, sengaja saya keluar rumah karena memang mau mencetak dokumen di rental komputer dekat rumah. Sambil menunggu ada tamu di rental komputer tersebut, saya keluar rental komputer sambil “iseng-iseng” mengambil gambar Patung GBN. Patung tersebut menjadi simbol dari Desa Lebaksiu. Padahal Lebaksiu lebih dikenal dengan martabaknya.

Sore itu jalanan begitu ramai dipenuhi dengan para pemudik yang akan “balik” ke tempat asalnya. Maklum jalan raya tersebut merupakan jalan raya penghubung daerah Tegal dan Purwokerto. Jadi ketika Lebaran, jalan raya tersebut sangat ramai.

Banyak perubahan yang saya temukan di Lebaksiu, tepatnya Lebaksiu Lor. Di sana mulai ada warnet dan jalanan lebih ramai. Ya, ramai dengan kendaraan bermotor. Terutama sepeda motor. Yang berjualan martabak pun mulai bertambah banyak. Jaraknya hanya sekitar 50-100 meter-an. Rata-rata yang berjualan adalah orang yang sudah tua, karena yang muda, kebanyakan sedang melakukan studi di luar kota atau berdagang martabak di daerah lain.

Namun sayang, saya tidak sempat mengunjungi sungai Gung. Padahal setiap Lebaran, biasanya kita,  sekeluarga besar sering jalan-jalan pagi di sungai Gung tersebut. Baik itu untuk bermain air atau hanya untuk melihat pemandangan alamnya.

Tak terasa, waktu begitu cepat berjalan… Keadaan sudah mulai banyak berubah. Sudah saatnya saya kembali ke desaku tercinta ini.





Sungai kebanggaanku hancur

16 04 2008

kali gung

Lebaksiu, tempatku dilahirkan. Tepatnya d daerah Lebaksiu Lor. Tempatnya para saudagar martabak. Desa ini memang tergolong kecil namun ramai. Karena dilewati jalan raya Tegal – Purwokerto. Jadi letaknya begitu strategis.

Banyak sekali obyek wisata yang dapat kita temui, tentu saja obyek wisata alam. Karena di daerah tersebut terbentang Sungai Gung yang luas dan deretan Bukit Sitanjung serta Gunung Slamet. Di sini pula terdapat pemancingan yang ramai dikunjungi oleh orang-orang yang terbilang kaya. Yang ingin mencicipi bawal bakar dengan sausnya yang begitu terkenal mengundang selera.

Namun itu dulu, kini rusak sudah pemandangan itu. Penambang sirtu (pasir dan batu) menambang pasir dan batu semakin liar saja. Bayangkan, dulu sungai itu mengalirkan air yang deras kini hampir kering kerontang serta bebatuan yang berserakan. Sangat jauh berbeda. Jembatan yang menghubungkan daerah Lebaksiu Lor dengan Sidamulya(bener apa ngga yah, lupa.he) pun rusak parah.

Sangat sayang sekali, padahal pemadangan di Lebaksiu Lor dapat dijadikan obyek wisata alam. Kini rusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Aku ingin ketika suatu saat aku menjadi pempimpin nanti, aku ingin memberdayakan potensi tersebut dan merekonstruksinya menjadi sediakala. Doakan ya.. Amin